Selasa, 07 Agustus 2018

PERANAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) BAGI IKLIM MIKRO DI BANJARBARU

Pemerintah Kota Banjarbaru sedang menggiatkan pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH), ruang terbuka yang didominasi tanaman dan tumbuhan. Pembangunan taman dipenuhi vegetasi asri beserta fasilitas bersantai maupun berolahraga, jalur hijau, kebun ataupun pelestarian hutan kota. RTH berguna sebagai daya tarik kunjungan pariwisata, tempat keluarga berlibur, menciptakan kenyamanan dan memperindah estetika yang asri menuju kota berkarakter.  Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan jumlah RTH di setiap kota minimal 30 persen dari luas kota. Maka pemerintah Banjarbaru menggalakkan pembangunan RTH, salah satunya pembangunan RTH Taman Syariah di depan masjid Al Munawwarah dan  akan membangun  di kelurahan Komet Jalan Panglima Batur. Dari segi sosial, keuntungan ruang terbuka hijau telah banyak diketahui masyarakat, tetapi sedikit yang tahu kegunaan dari segi fisik di antaranya iklim mikro. 

Gambar 1. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Masjid Al Munawwarah Trikora 

Iklim mikro berhubungan erat dengan dinamika iklim skala kecil di sekitar permukaan tanah sampai tajuk tanaman.  Lapisan atmosfer di dekat permukaan  berhubungan erat dengan berbagai aktivitas kehidupan kita. Berbagai proses iklim mikro terjadi di permukaan bumi di antaranya transfer radiasi matahari, pergerakan massa uap air, neraca energi,  respirasi dan fotosintesis.  Aliran yang membawa sifat-sifat atmosfer baik secara vertikal maupun horizontal, yaitu pergerakan massa udara, penguapan dan pemanasan atmosfer dan tanah. RTH bagian iklim mikro yang sangat berguna dari sisi ekologis. RTH dapat menahan angin kencang, memperbaiki iklim mikro, dengan penghijauan dan vegetasi akan menyebabkan pergerakan udara yang lebih baik, suhu udara lebih sejuk, mengurangi polutan, mengurangi karbondioksida serta memproduksi oksigen. 



Gambar 2. Contoh Ruang Terbuka Hijau

Pengaruh RTH terhadap pergerakan massa udara
 
RTH dapat membantu menahan angin kencang. Angin membawa massa udara, ketika melewati permukaan akan mengalami transfer momentum. Di lapisan atmosfer dekat permukaan tanah, gaya karena kekasapan (kekasaran) permukaan akan mempengaruhi  gerakan udara yang terjadi di atasnya dan massa udara mempengaruhi karakteristik permukaan di bawahnya. Tingkat kekasapan memberikan pengaruh profil vertikal kecepatan angin. Tingkat kekasapan yang tinggi terjadi di suatu vegetasi dekat permukaan tanah seperti halnya di RTH. Kecepatan angin meningkat terhadap ketinggian secara logaritmik dan mendekati nol di dekat permukaan. Di lahan gundul, suhu, kecepatan angin dan tekanan uap sangat cepat meningkat sehingga turbulensi atau golakan angin akan semakin cepat. Sedangkan di daerah yang bervegetasi unsur-unsur tersebut akan berlangsung lambat sehingga turbulensi lebih lambat pula. Massa udara akan diserap permukaan tanaman, terjadi tahanan permukaan sehingga kecepatan angin berkurang. Hal ini menjelaskan mengapa di daerah yang vegetasi sedikit cenderung mudah terjadi kejadian angin kencang. RTH dapat menahan angin (wind barrier), menurut Hakim dan Utomo (2004) dapat mengurangi kecepatan angin 75 sampai 80 persennya. Pengaturan tanaman yang tepat dapat mengurangi kecepatannya serta sebagai pemecah angin. Tanaman pohon dikombinasikan dengan semak dapat digunakan menggantikan bangunan yang dapat mengganggu pergerakan angin. RTH memegang peranan penting terhadap pergerakan massa udara terutama di lapisan atmosfer dekat permukaan tanah atau lapisan perbatas (boundary layer).

Gambar 3 Lapisan perbatas (boundary layer) hubungannya dengan kecepatan angin


Gambar 4. Mekanisme vegetasi menahan angin kencang

Pengaruh RTH terhadap suhu di permukaan
 
Suhu lingkungan berbeda pada berbagai tipe permukaan. Pemanasan dan pendinginan lahan dipengaruhi oleh tipe tutupan lahan. Suhu pada siang hari di daerah bervegetasi, misalnya hutan akan jauh lebih rendah dibandingkan di lahan yang gundul. Penerimaan radiasi matahari akan rendah di daerah vegetasi yang lebat disebabkan oleh energi radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi akan berkurang, lebih banyak diserap, dipantulkan dan diserap oleh gas dan aerosol di atmosfer. Di daerah hutan Pinus Banjarbaru tempat yang mempunyai suhu udara yang lebih sejuk dan nyaman. Menurut Krisdianto dan kawan-kawan (2012), keberadaan hutan Pinus tersebut menyebabkan efek yang mendinginkan udara (cooling effect), menurunkan indeks suhu kelembaban 6 sampai 7 derajat Celsius. Sebaliknya di daerah lahan yang gundul suhu lingkungan akan lebih tinggi. Penerimaan dan penyerapan radiasi matahari lebih berkurang di lahan terdegradasi. Proses ini disebabkan turbiditas, ketidaktembusan cahaya pada atmosfer yang disebabkan gas dan aerosol (debu dan uap air) atau kemampuan suatu tajuk mengurangi energi matahari yang masuk. Di hutan kota atau RTH, turbiditas atmosfer tinggi sehingga penerimaan radiasi di wilayah tersebut akan berkurang, naungan yang dapat menguranginya. RTH menggunakan energi untuk transpirasi sehingga suhu lebih rendah dan kelembaban lebih tinggi. RTH berperan penting mengurangi efek UHI (Urban Heat Island) yang menyebabkan kota lebih panas daripada daerah sekitarnya. Keberadaan RTH dapat menurunkan suhu dan meningkatkan kelembaban udara demi menciptakan kenyamanan termal.



Gambar 5. Pengaruh UHI
  
Pengaruh RTH terhadap ketersediaan air dan polutan
RTH dapat mereduksi dan menyerap polutan. Ia mampu menyerap karbondioksida melalui fotosintesis. Karbon di dalam suatu ekosistem hutan akan tersimpan dalam bentuk biomassa. RTH juga meredam kebisingan dan filter bagi polutan partikulat serta debu. Menurut Ruslan dan Rahmad (2012), diprakirakan total Karbondioksida yang dapat diserap dari hutan kota di Banjarbaru sebesar 446.024,91 ton/ tahun. Melalui proses evapotranspirasi suatu hutan kota juga dapat menjaga  keserasian dan kelestarian ekosistem, serta meningkatkan sumber daya air yang optimal. Saat musim hujan menghindari banjir dan musim kemarau mencegah kekeringan.
Tanaman atau vegetasi tertentu dapat memperbaiki kualitas lingkungan dengan menyerap gas-gas polutan tertentu dan menjerap aerosol (debu). Polutan misalnya partikulat PM10 yang secara rutin diobservasi  BMKG apabila melebihi standar mutunya dapat memicu tingkat polutan membahayakan manusia. Monitoring maupun informasi kualitas udara berupa konsentrasi polutan dan unsur cuaca udara ambien di perkotaan sangat penting. Pergerakan angin berguna dalam proses pengurangan zat emisi  di udara. Penggunaan tanaman lanskap tertentu yang tepat dapat mengurangi tingkat polutan di udara sekitarnya. Tingkat toleransi tanaman berbeda-beda terhadap polusi udara. Tanaman dan vegetasi yang tepat dapat digunakan sebagai bioindikator polusi. Mengingat pentingnya Ruang Terbuka Hijau maka sepatutnya warga kota Banjarbaru terus menjaganya. Di dalamnya hendaknya berisikan tanaman ciri khas daerah kita dan perlu perencanaan serta perancangan yang tepat. Keberadaannya menjadi penambah kualitas lingkungan, budaya dan iklim mikro bagi kota Banjarbaru.

Gambar 6. Pengaruh keberadaan vegetasi terhadap unsur cuaca di daerah tertentu 
(1) Bervegetasi (2) Gundul 

Gambar  7. Contoh juara lomba desain Ruang Terbuka Hijau (RTH) Banjarbaru
Bahan bacaan :

Hakim dan Utomo. 2004. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Bumi Aksara. Jakarta.

Krisdianto, Soemarno, Udiansyah, Bagyo Januwiadi. 2012. Standing carbon in an urban green space and its contribution to the reduction of the thermal discomfort index: a case study in the City of Banjarbaru, Indonesia. International Journal of Scientific and Research Publications, 2 (4). April 2012.

Ruslan, M dan Rahmad, B. 2012. Kajian Ruang Terbuka Hijau dalam Rangka Pembentukan Hutan Kota di Banjarbaru. Jurnal Hutan Tropis 13 (1).



2 komentar:

mavita mengatakan...

Tulisan yang bagus pak. Ijin menyadur, untuk tugas penataan ruang hijau bagi kawasan pesisir.

ustadzklimat mengatakan...

silahkan pak terima kasih