Selasa, 25 Februari 2020

FENOLOGI TANAMAN DAN GROWING DEGREE-DAYS


Gambar 1. Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung (Zea mays L.)

Unsur cuaca dan iklim sangat berhubungan erat dengan tanaman. Tanaman dapat dipengaruhi unsur cuaca/ iklim oleh suhu rendah dan tinggi, intensitas dan jam sinar matahari, angin dan curah hujan. Pengaruh cuaca dan iklim terhadap tanaman dimulai oleh pengaruh langsung cuaca, terutama pengaruh sinaran dan suhu terhadap berbagai metabolisme dalam tanaman (fotosintesis, respirasi dan beberapa metabolisme dalam sel organ tanaman). Fotosintesis dan respirasi matahari proses biokimia yang memerlukan katalisator. Kecepatan prosesnya akan tergantung pada keaktifan pengkatalisa yang diatur oleh suhu. Pembahasan dimulai dengan radiasi matahari, yang menentukan intensitas dan lama penyinaran matahari, suhu udara, dan evapotranspirasi. Hal ini menyebabkan kelembaban udara dan tutupan awan, sehingga pemanasan udara tidak merata, menyebabkan gerakan angin dan perbedaan tekanan atmosfer (barometrik). Semua hal ini menyebabkan curah hujan, yang menyediakan air yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman.

Selasa, 28 Januari 2020

MENGHITUNG EVAPORASI DAN EVAPOTRANSPIRASI REFERENSI DENGAN MENGGUNAKAN PANCI PENGUAPAN


Gambar 1. Panci Penguapan (Open Pan Evaporimeter)

Panci penguapan merupakan efek gabungan dari suhu, kelembaban udara, kecepatan angin dan sinar matahari terhadap evapotranspirasi pada tanaman referensi. Masalah yang umum suatu panci penguapan tingkat penguapannya akan berbeda pada suatu lahan yang berumput tergantung pada karakteristik tempat dan keadaan cuaca/iklimnya. Penelitian yang rinci tentang neraca energi, perilaku dinamis berhubungan dengan parameter iklim dan menjelaskan proses yang menentukan tingkat penguapan (evaporasi) masih sangat kurang, hanya kebanyakan terfokus pada menentukan Eo, evapotranspirasi dan koefisien empiris Kpan (Molina et al., 2006). Tulisan ini menjelaskan tentang proses evaporasi pada alat panci pengupan kelas A dari segi neraca air dan neraca energi dan menjelaskan beberapa metode penentuan nilai koefisien alat (Kpan) untuk mendapatkan nilai evapotranspirasi referensi pada panci penguapan.

Selasa, 29 Oktober 2019

NERACA ENERGI DI PERMUKAAN BUMI DAN PENGAMATAN RADIASI MATAHARI DENGAN ALAT ASRS


Gambar 1. Beberapa energi terbarukan dan energi tak terbarukan

Energi terbarukan (renewable energy/ ath-thaqah al-mutajaddadah) merupakan kebutuhan yang sangat penting. Ikhtiar ilmiah pengolahan energi terbarukan adalah pilihan terbaik untuk dilakukan mengkaji energi terbarukan dalam perspektif Islam (fikih). Salah satu energi terbarukan yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah energi dari radiasi matahari. Sumber energi tersebut adalah sumber energi penting yang ramah lingkungan, tidak mencemari lingkungan, dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim serta pemanasan global (Ghazali et al., 2017). Saat ini penggunaan energi terbarukan di Indonesia baru sekitar 6,8% dalam bauran energi final. Pemerintah masih harus terus mendorong pengembangan energi tersebut. Indonesia terletak di daerah ekuator yang mempunyai surplus dalam penerimaan energi radiasi matahari, potensial luar biasa dibandingkan daerah lain di lintang tinggi.

Rabu, 31 Juli 2019

KEARIFAN LOKAL DALAM MENENTUKAN AWAL MUSIM KEMARAU UNTUK PERTANIAN DI LAHAN RAWA KALIMANTAN SELATAN

Gambar 1. Peta lahan rawa (Sumber : https://www.cifor.org/global-wetlands/)

Sistem pengetahuan lokal atau sering juga disebut indigenous knowledge atau local knowledge adalah konsep mengenai segala sesuatu gejala yang dilihat, dirasakan, dialami ataupun yang dipikirkan, diformulasikan menurut pola dan cara berpikir suatu kelompok masyarakat. Pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal-balik antara masyarakat dengan lingkungannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kearifan lokal yang hidup dan berkembang di wilayah lahan gambut Kalimantan, antara lain: (1) pemanfaatkan gerakan pasang surut air untuk irigasi dan drainase, (2) penentuan tanaman yang ditanam di sekitar pengairan, (3) konservasi air dengan sistem tabat, (4) sistem pemilihan lahan, (5) sistem penyiapan lahan dan pengolahan tanah, (6) sistem penataan lahan, (7) sistem pengelolaan kesuburan tanah, dan (8) cara petani dalam mengenali musim (Prayoga, 2016).

Kearifan lokal yang terkait dengan iklim adalah cara petani mengenali musim hujan dan musim kemarau melalui gejala alam. Informasi awal musim hujan sangat penting bagi pertanian. Salah satu indikator yang digunakan dalam menentukan waktu tanam adalah awal musim hujan (Surmaini dan Syahbuddin, 2016). Musim kemarau ditunggu karena bagi masyarakat tradisional untuk membuka lahan bagi kegiatan pertanian, dalam sistem perladangan yang mengandalkan curah hujan sebagai kebutuhan air tanaman.