Kamis, 24 Agustus 2017

SUMBER INFORMASI HUJAN

Curah hujan adalah merupakan informasi yang sangat penting. Hal ini dikarenakan air untuk : 
  • Sumber air bersih
  • Mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Seperti halnya kejadian bencana berupa : kekeringan, banjir, dan lain-lain.
  • Bagian yang penting dari sirkulasi atmosfer dan interaksi udara-lautan, atmosfer-daratan. Yakni peristiwa : konveksi, siklus air, fluks air bersih dan kelembapan tanah.
Oleh karena itu informasi evaluasi dan prakiraan curah hujan sangat berguna. Keragaman (variasi) curah hujan di wilayah kita sangat nyata, sedangkan unsur-unsur iklim lain  tak berfluktuasi secara nyata sepanjang tahun. Curah hujan merupakan faktor pembatas yang paling penting di daerah tropis. Presipitasi adalah turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi, yang bisa berupa hujan, hujan salju, kabut, embun dan hujan es. Di tempat kita yang merupakan daerah tropis, hujan memberikan sumbangan paling besar sehingga hujan yang dianggap sebagai  sumber utama presipitasi.

Informasi hujan bisa didapatkan dengan  berbagai cara. Sumber informasi hujan bisa didapatkan melalui :
1. Pengukuran penakar hujan
2. Observasi radar
3. Prakiraan melalui satelit
4. Forecast/ simulasi dengan menggunakan model numerik

Senin, 06 Februari 2017

BANJARBARU MENUJU KOTA HIJAU (MEMBANGUN DENGAN PENDEKATAN KLIMATOLOGI PERKOTAAN)

Oleh : Khairullah
Mahasiswa Pasca Sarjana Klimatologi Terapan IPB asal Kalimantan Selatan

Tahun kemarin Banjarbaru mendapatkan penghargaan Adipura Kirana, penghargaan yang dititikberatkan kota yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui perdagangan, wisata dan investasi berbasis pengelolaan lingkungan hidup. Langkah yang maju bagi Banjarbaru menuju kota yang bersih, hijau dan sehat, tentu banyak tantangan yang dihadapi. Membangun suatu kota tidak hanya membangun sumber daya manusia saja tetapi perlu membangun fisiknya. Pembangunan fisik penting karena kota terdapat pemusatan penduduk dengan berbagai jenis kegiatan ekonomi, sosial budaya dan administrasi pemerintahan.
Gambar 1. Peta Banjarbaru
Di dalam konsep Klimatologi Perkotaan (Urban Klimatologi), permasalahan di kota karena pembangunan sangat besar akan membawa perubahan di permukaan bumi. Persoalan sumber daya air, pencemaran yang berdampak pada kesehatan, kebisingan yang tinggi, menurunnya kenyamanan termal dan perubahan iklim di kota. Ada suatu fenomena “pulau panas perkotaan” atau UHI (Urban Heat Island), sebutan kecenderungan suatu kota temperaturnya lebih panas dibanding daerah pinggiran di sekitarnya, dengan perbedaan temperatur pada malam hari lebih tinggi daripada siang hari. Pembangunan di kota membuat vegetasi alami digantikan permukaan vegetasi yang sulit untuk berevaporasi dan bertranspirasi misalnya logam, aspal dan beton. Banyak gedung di kota besar dibangun dengan material yang menyerap panas dan menyimpan panas, menyebabkan aliran angin tidak lancar cenderung menghalangi aliran angin. Seharusnya panas yang tersimpan dapat menghilang secara alami saat malam hari tetapi gedung menghalanginya, menyebabkan kontrasnya radiasi permukaan dan suhu perkotaan antara kota dan pinggiran di sekitarnya. Panas buangan akibat penggunaan energi dan transportasi juga kontributor terbesar. Ketika pusat penduduk berkembang, mereka cenderung mengalih guna lahan lebih luas lagi sehingga mengalami peningkatan suhu permukaan tanah. Peristiwa ini mirip peristiwa global warming secara lokal dan kebanyakan terjadi di kota-kota besar di dunia, tetapi anehnya tidak terjadi di sub urban sekitarnya. Penyebab utama fenomena ini dari dampak aktivitas manusia (antropogenik) dan populasinya yang terus meningkat. 

Minggu, 08 November 2015

MENGENAL AQUACROP



Air merupakan faktor dasar dalam pertanian. Air diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kecukupan air tanaman selama masa tanam mencerminkan potensi produksi tanaman pada akhir masa tanam. AquaCrop adalah versi terbaru dari CROPWAT, suatu software berbasiskan windows yang didesain untuk mensimulasikan biomassa dan respons hasil panen tanaman di lapangan dengan berbagai tingkat ketersediaan air. Penerapannya meliputi lahan tadah hujan berserta kelengkapannya, defisit dan irigasi penuh. AquaCrop berdasarkan mesin pertumbuhan digerakkan oleh air yang menggunakan produktivitas air biomassa (atau efesiensi penggunaan air biomassa) sebagai parameter pertumbuhan utama (WPb). AquaCrop adalah alat untuk memprediksi produksi tanaman dengan kondisi manajemen air yang berbeda dalam kondisi sekarang dan perubahan iklim di masa akan datang AquaCrop juga menginvestigasi strategi manajemen yang berbeda, dalam kondisi sekarang dan perubahan iklim di masa akan datang (UNFCCC, 2014). Menurut FAO (2013), AquaCrop adalah model produktifitas air tanaman yang dikembangkan oleh Divisi Tanah dan Air dari FAO. AquaCrop dapat menyimulasikan hasil panen air tanaman terna (herbaceous) dan sangat cocok untuk kondisi dimana air adalah kunci faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman.

Minggu, 18 Januari 2015

SEKOLAH LAPANG IKLIM BMKG DI INDONESIA DAN KALIMANTAN SELATAN



Pentingnya SLI

Curah hujan adalah merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena keragamannya sangat tinggi menurut waktu maupun tempat. Kejadian iklim ekstrim di Indonesia semakin meningkat dan semakin sering terjadi di Indonesia. Kejadian iklim ekstrim terkait erat dengan curah hujan, misalnya kekeringan dan kejadian banjir. Dampaknya berupa kegagalan panen petani yang diakibatkan iklim ekstrim juga semakin sering baik dari segi kualitas ataupun kuantitas. Dikarenakan itu maka perlu dilakukan berbagai upaya dan tindakan untuk menekan dampak negatif tersebut seminimal mungkin.

Pakar Iklim Pertanian IPB, Prof. Dr. Rizaldi Boer mengatakan, kerugian sulit diprakirakan lantaran petani dan pemerintah daerah tidak paham akan pentingnya informasi iklim. Selain sulit dimengerti, informasi iklim masih bersifat umum dan tidak cepat tersedia, sehingga petani sulit mempertimbangkan berbagai persoalan iklim. Baik petani dan pemda belum peduli pentingnya informasi iklim. Selama ini pemerintah daerah belum menganggap informasi iklim penting apalagi petaninya sendiri.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam rangka penanggulangan dampak iklim ekstrim adalah dengan melaksanakan Sekolah Lapang Iklim (SLI). Melalui SLI para petani diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani mereka apabila terjadi banjir, kekeringan maupun bencana lainnya.

Konsep Sekolah lapang iklim awalnya diadopsi dari Sekolah Lapangan Petani yang didesain untuk pengelolaan hama terpadu (SLPHT). Sekolah Lapang Iklim (SLI) bertujuan untuk menerjemahkan informasi iklim melalui suatu proses pelatihan. SLI juga dapat dikatagorikan sebagai suatu sosialisasi pemahaman informasi iklim pada tingkat petani, penyuluh dan dinas pertanian daerah setempat. SLI dititikberatkan di daerah yang rentan dan berpotensi terhadap kejadian ekstrim ataupun di daerah yang merupakan sentra pangan. Sehingga ringkasnya tujuan SLI adalah : a) meningkatkan pengetahuan petani tentang iklim dan kemampuannya b) membantu petani mengamati unsur iklim dan menggunakannya dalam rangka mendukung usaha tani mereka dan c) membantu petani menerjemahkan informasi prakiraan iklim untuk strategi budidaya yang lebih tepat.

Dalam rangka SLI dititikberatkan pada daerah yang rentan dan berpotensi terhadap kejadian ekstrim atau daerah yang menjadi sentra produksi pangan. SLI juga dapat memotivasi kelompok tani untuk lebih meningkatkan kerjasama dan saling bertukar informasi dalam menyusun strategi pertanian.

Program SLI ini pertama kali didesain pada tahun 2003 oleh IPB (Institut Pertanian Bogor)  bekerja sama dengan pemerintah Daerah Indramayu, Departemen Pertanian, Badan Meteorologi dan Geofisika (sekarang BMKG : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dengan dukungan Asian Disaster Preparedness Centre (ADPC) dan kemudian oleh International Research Institute for Climate and Society (IRI)-University of Columbia.