Tampilkan postingan dengan label curah hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curah hujan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 April 2025

SUMBER INFORMASI HUJAN (BAGIAN II)



Di bagian pertama telah dijelaskan bahwa informasi curah hujan bisa didapatkan melalui :
1. Pengukuran penakar hujan
2. Observasi radar
3. Satelit
4. Forecast/ simulasi dengan menggunakan model numerik

Fokus ke nomor 3 informasi curah hujan melalui satelit. Sebagai catatan, data curah hujan yang hanya didapatkan melalui satelit mempunyai keunggulan dapat mencakup wilayah global, konsisten, tersedia real-time dan dapat diperoleh pada intensitas yang luas. Tetapi, mempunyai kelemahan datanya relatif lebih bias terutama di daerah yang mempunyai topografi yang kompleks (pegunungan, hutan tropis dan lain-lain). Kelemahan lainnya adalah underestimate terhadap curah hujan yang ekstrem karena sensor satelit tidak mampu menangkapnya. Tetapi juga sebaliknya overestimate hujan yang ringan, karena adanya noise dalam penginderaan jauh. Data hujan melalui pos hujan atau observasi mempunyai keunggulan akurasi yang tinggi yang lebih detil sesuai dengan spesifik daerahnya. Di daerah dengan topografi yang rumit, data observasi bisa lebih akurat karena pengukuran langsung di lapangan dapat menangkap variasi lokal yang tidak terdeteksi oleh satelit.

Minggu, 25 Agustus 2024

PEGUNUNGAN MERATUS : FENOMENA LOKAL YANG MEMPENGARUHI HUJAN DI KALIMANTAN SELATAN DAN MODEL UNTUK MEMAHAMINYA

Gambar 1. Lokasi Pegunungan Meratus (Sadili dan Royani, 2018)

Geografis Kalimantan Selatan dan Kondisi Lokal Hujan

Kalimantan Selatan (disingkat Kalsel) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota. Secara geografis berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur di utara, Provinsi Kalimantan Tengah di barat, serta Selat Makassar di timur dan Laut Jawa di selatan. Dari 13 kabupaten/kota tersebut, lima kabupaten dan satu kota di antaranya merupakan wilayah yang memiliki pulau-pulau kecil, yakni Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru, serta Kota Banjarmasin.

Menurut https://kalselprov.go.id/ Kalimantan Selatan berada di bagian tenggara pulau Kalimantan, memiliki kawasan dataran rendah di bagian barat dan pantai timur, serta dataran tinggi yang dibentuk oleh Pegunungan Meratus di tengah. Menurut https://www.mongabay.co.id/ geografis utama Kalimantan Selatan terdiri atas 2 hal. Pertama, adanya dataran rendah dan dataran tinggi. Kawasan dataran rendah kebanyakan berupa lahan gambut hingga rawa-rawa sedangkan kawasan dataran tinggi sebagian masih merupakan hutan tropis alami. Kalimantan Selatan menjadi bagian barat dan bagian timur yang dipisahkan oleh dataran tinggi yang dibentuk Pegunungan Meratus di tengah, dengan luas daerahnya 38.744,00 km². Kedua, memiliki curah hujan yang tinggi, khususnya di bagian pesisir. 

Curah hujan di suatu lokasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor lokal, regional dan global termasuk di Kalimantan Selatan. Curah hujan di suatu wilayah secara geografis dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain elevasi atau ketinggian tempat/wilayah, jarak dari sumber air, barisan pegunungan serta luasan daratan dan perairan (secara lokal). Beberapa pengaruh lokal yang dapat mempengaruhi curah hujan di suatu lokasi di antaranya topografi, pola angin lokal, lokasi geografis setempat dan lain-lain. Maka, Pegunungan Meratus merupakan faktor lokal yang penting bagi hujan di Kalimantan Selatan. 

Kamis, 24 Agustus 2017

SUMBER INFORMASI HUJAN

Curah hujan adalah merupakan informasi yang sangat penting. Hal ini dikarenakan air untuk : 
  • Sumber air bersih
  • Mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Seperti halnya kejadian bencana berupa : kekeringan, banjir, dan lain-lain.
  • Bagian yang penting dari sirkulasi atmosfer dan interaksi udara-lautan, atmosfer-daratan. Yakni peristiwa : konveksi, siklus air, fluks air bersih dan kelembapan tanah.
Oleh karena itu informasi evaluasi dan prakiraan curah hujan sangat berguna. Keragaman (variasi) curah hujan di wilayah kita sangat nyata, sedangkan unsur-unsur iklim lain  tak berfluktuasi secara nyata sepanjang tahun. Curah hujan merupakan faktor pembatas yang paling penting di daerah tropis. Presipitasi adalah turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi, yang bisa berupa hujan, hujan salju, kabut, embun dan hujan es. Di tempat kita yang merupakan daerah tropis, hujan memberikan sumbangan paling besar sehingga hujan yang dianggap sebagai  sumber utama presipitasi.

Informasi hujan bisa didapatkan dengan  berbagai cara. Sumber informasi hujan bisa didapatkan melalui :
1. Pengukuran penakar hujan
2. Observasi radar
3. Prakiraan melalui satelit
4. Forecast/ simulasi dengan menggunakan model numerik

Selasa, 09 Desember 2014

FENOMENA GLOBAL DAN REGIONAL YANG MEMPENGARUHI MUSIM DI INDONESIA DAN KALIMANTAN SELATAN

Keberadaan Indonesia di daerah tropis, di antara benua Asia dan Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, mempunyai banyak pulau dan kepulauan serta banyak selat dan teluk tentu saja membuat Indonesia kondisi iklimnya akan dipengaruhi berbagai fenomena global dan regional.

Fenomena global diantaranya: El Nino, La Nina, Dipole Mode dan Madden Julian Oscillation (MJO). Fenomena regional diantaranya: sirkulasi Monsun Asia-Australia dan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia.

Selasa, 29 Mei 2012

ZONA MUSIM YANG BARU DI KALIMANTAN SELATAN

Zona musim (ZOM) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Daerah-daerah yang pola hujan rata-ratanya tak memiliki perbedaan yang jelas antara musim kemarau dan hujan disebut Non ZOM. Luas suatu wilayah ZOM tak sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.


Menurut Standar Normal yang baru (1981-2010) dengan proses clustering maka Kalimantan Selatan mempunyai 10 Zona Musim (ZOM) dan 1 daerah Non ZOM. Daerah Non ZOM ini didapatkan dari sebagian daerah Zona Musim 173 dan 174 yang dulu.

Sabtu, 11 Februari 2012

PENGAMATAN CURAH HUJAN DENGAN PENAKAR HUJAN OBSERVATORIUM

A. PENGERTIAN

Pos pengamatan hujan biasa adalah tempat atau lokasi pengamatan hujan yang terdiri dari penakar hujan tipe observatorium (Obs) untuk mengukur jumlah curah hujan selama 24 jam di suatu tempat yang dilakukan dengan cara mengukur langsung pada gelas ukur.
Penakar hujan tipe observatorium adalah penakar hujan tipe kolektor yang menggunakan gelas ukur untuk mengukur air hujan. Penakar hujan ini adalah merupakan penakar hujan yang paling banyak digunakan di Indonesia dan merupakan "standar" di negara kita.

B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Penakar hujan observatorium mempunyai kelebihan berupa : mudah dipasangnya, mudah dioperasikannya karena langsung terukur pada gelas ukur dan pemeliharaannya juga relatif mudah karena tak ada bagian-bagian tambahan pada alat. Akan tetapi kekurangannya adalah data yang didapat hanyalah data jumlah curah hujan selama periode 24 jam. Resiko kerusakan gelas ukur dan resiko kesalahan pembacaan dapat terjadi saat membaca permukaan dari tinggi air di gelas ukur, sehingga hasilnya dapat berbeda.

C. BAGIAN-BAGIAN PENAKAR

Bagian dari penakar hujan Observatorium:
Keterangan gambar :
1. Corong penakar (luas 100 cm2)
2. Tempat penampungan air hujan
3. Kran air
4. Kaki kayu yang disanggahkan ke dalam penakar
5. Pondasi/ kaki kayu
6. Pondasi beton

Kamis, 03 September 2009

HUJAN BUATAN


Upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghasilkan hujan buatan di Kalimantan Barat belum tercapai, sehingga kabut asap masih menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya(http://www.news.id.finroll.com/news/31 Agustus 2009). Demikian pula yang terjadi di Kalimantan Tengah terkendala karena masalah kerusakan pesawat Cassa 212-200 yang akan digunakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk menyemaikan atau menaburkan garam di awan (Banjarmasin Post, 28 Agustus 2009).

Berikut ini akan penulis jelaskan sedikit tentang bagaimana hujan buatan tersebut semestinya dapat berlangsung:

Sifat awan yang menyebabkan hujan oleh manusia digunakan untuk membuat hujan buatan. Dalam mempercepat hujan, orang memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi (perak dioksida, kristal es, es kering atau CO2 padat). Zat-zat tersebut ditaburkan ke udara dengan menggunakan pesawat terbang. Pembuatan hujan buatan disebut sebagai suatu proses pemodifikasian awan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, terutama NaCl (garam dapur).

Kamis, 23 April 2009

HUJAN TINJAUAN SECARA ILMIAH DAN ISLAMI

Pengertian :

Siklus air atau siklus hidrologi adalah siklus yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi (evapotranspirasi).

Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara terus menerus.

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:

Selasa, 16 Desember 2008

KALSEL SIAGA: CURAH HUJAN TINGGI HINGGA JANUARI

BANJARMASIN – Banjir di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi peringatan bagi seluruh wilayah di Kalsel. Pasalnya, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) seluruh daerah di Kalsel berpotensi banjir. Fenomena alam ini tak hanya disebabkan curah hujan yang tinggi hingga Januari 2009 nanti, tapi juga terjadinya pasang tinggi di daerah aliran sungai. “Pasang tinggi akan terjadi hingga 20 Desember ini, sedangkan puncak musim hujan sampai Januari 2009,” terang staf BMG Zakiah saat dihubungi wartawan kemarin (15/12). 

Sebelumnya Kasubdin Bina Organisasi Penangggulangan Bencana Dinkesos Kalsel H Jakaria mengingatkan kawasan yang menjadi langganan banjir siaga. Selain Banua Anam, banjir juga mengancam Kotabaru, Tanah Laut, Tanah Bumbu serta Kabupaten Banjar. “Mengacu ramalan BMG, dalam dua minggu terakhir curah hujan cenderung meningkat di Riam Kanan dan Riam Kiwa,” ungkapnya saat dihubungi kemarin. 

Rabu, 08 Oktober 2008

BANJIR DI TANAH LAUT TAHUN 2008

Keberadaan pegunungan Meratus tengah-tengah Kalimantan berakibat terbentuknya beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS bagian barat, timur dan selatan pegunungan Meratus. Kabupaten Tanah Laut (Tala) termasuk dalam bagian selatan. Ada tujuh sistem DAS di Tala, semuanya bermuara langsung ke laut Jawa. Tetapi hanya lima DAS yang selalu menimbulkan banjir pada musim penghujan, yaitu DAS Kintap, Asam-Asam, Jorong, Tabanio dan Maluka. Kelima DAS tersebut berhulu di Pegunungan Meratus.

Banjir yang dari tahun ke tahun makin besar membuktikan kondisi DAS telah mengalami degradasi akibat ulah sebagian masyarakat yang tidak memperhatikan lingkungan. Faktor iklim memang juga sebagai penyebab banjir, karena saat itu hujan memang terlalu tinggi. Tapi data hujan selama 25 tahun terakhir tak menunjukkan perubahan yang signifikan, sehingga iklim merupakan faktor yang tetap. Demikian penjelasan dari akademisi Fakultas Kehutanan Unlam Suyanto, dalam kolom opini Banjarmasin Post 20-9-2008. Banjir yang terbesar terjadi di Tanah Laut terjadi pada tanggal 25-8-2008 (B.Post 26-8-2008). Beliau menyarankan adanya upaya jangka panjang merehabilitasi vegetasi non hutan terutama di bagian DAS hulu yang berlereng curam dan sangat curam, revisi peta tata ruang (RTRWK) yang ada dan membatasi pembukaan lahan seperti kebun kelapa sawit, pertambangan dan penguasaan hutan. Sedangkan jangka pendeknya dengan menambah gorong-gorong di sekitar dan normalisasi sungai seperti kanalisasi dan sodetan.