Selasa, 27 Mei 2025

MONITORING KUALITAS UDARA DENGAN PM2.5

Partikulat merupakan salah satu polutan yang dapat menyebabkan penurunan kualitas udara. Partikulat matter 2.5 (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Berbeda dengan PM10 yang berukuran lebih besar, dengan diameter kurang dari 10 mikron (mikrometer). 

Gambar 1. Ilustrasi ukuran PM2.5

Mengapa Monitoring Kualitas Udara dengan PM2.5?

Pemantauan dan monitoring partikulat PM2.5 sangat penting. Ukuran partikulat PM2.5 sangat kecil di bawah diameter 2.5 mikrometer. Ukuran tersebut memungkinkan partikulat akan tetap bertahan di udara dalam waktu yang lama dan dapat menembus ke dalam saluran pernafasan manusia. Dalam jangka yang panjang PM2.5 dapat menyebabkan dampak yang membahayakan, memasuki saluran pernafasan dan mengganggu kesehatan. Akibat terpaparnya dalam jangka panjang di tubuh manusia, menyebabkan iritasi saluran pernapasan, peningkatan risiko penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis, serta penyakit kardiovaskular. Monitoring PM2.5 di suatu daerah akan memberikan informasi yang penting bagi potensi dampak kesehatan karena polutan secara signifikan. Menurut WHO PM adalah indikator proksi umum untuk polusi udara. Ada bukti kuat untuk dampak kesehatan negatif yang terkait dengan paparan polutan ini. 

Sabtu, 05 April 2025

SUMBER INFORMASI HUJAN (BAGIAN II)



Di bagian pertama telah dijelaskan bahwa informasi curah hujan bisa didapatkan melalui :
1. Pengukuran penakar hujan
2. Observasi radar
3. Satelit
4. Forecast/ simulasi dengan menggunakan model numerik

Fokus ke nomor 3 informasi curah hujan melalui satelit. Sebagai catatan, data curah hujan yang hanya didapatkan melalui satelit mempunyai keunggulan dapat mencakup wilayah global, konsisten, tersedia real-time dan dapat diperoleh pada intensitas yang luas. Tetapi, mempunyai kelemahan datanya relatif lebih bias terutama di daerah yang mempunyai topografi yang kompleks (pegunungan, hutan tropis dan lain-lain). Kelemahan lainnya adalah underestimate terhadap curah hujan yang ekstrem karena sensor satelit tidak mampu menangkapnya. Tetapi juga sebaliknya overestimate hujan yang ringan, karena adanya noise dalam penginderaan jauh. Data hujan melalui pos hujan atau observasi mempunyai keunggulan akurasi yang tinggi yang lebih detil sesuai dengan spesifik daerahnya. Di daerah dengan topografi yang rumit, data observasi bisa lebih akurat karena pengukuran langsung di lapangan dapat menangkap variasi lokal yang tidak terdeteksi oleh satelit.

Minggu, 25 Agustus 2024

PEGUNUNGAN MERATUS : FENOMENA LOKAL YANG MEMPENGARUHI HUJAN DI KALIMANTAN SELATAN DAN MODEL UNTUK MEMAHAMINYA

Gambar 1. Lokasi Pegunungan Meratus (Sadili dan Royani, 2018)

Geografis Kalimantan Selatan dan Kondisi Lokal Hujan

Kalimantan Selatan (disingkat Kalsel) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota. Secara geografis berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur di utara, Provinsi Kalimantan Tengah di barat, serta Selat Makassar di timur dan Laut Jawa di selatan. Dari 13 kabupaten/kota tersebut, lima kabupaten dan satu kota di antaranya merupakan wilayah yang memiliki pulau-pulau kecil, yakni Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru, serta Kota Banjarmasin.

Menurut https://kalselprov.go.id/ Kalimantan Selatan berada di bagian tenggara pulau Kalimantan, memiliki kawasan dataran rendah di bagian barat dan pantai timur, serta dataran tinggi yang dibentuk oleh Pegunungan Meratus di tengah. Menurut https://www.mongabay.co.id/ geografis utama Kalimantan Selatan terdiri atas 2 hal. Pertama, adanya dataran rendah dan dataran tinggi. Kawasan dataran rendah kebanyakan berupa lahan gambut hingga rawa-rawa sedangkan kawasan dataran tinggi sebagian masih merupakan hutan tropis alami. Kalimantan Selatan menjadi bagian barat dan bagian timur yang dipisahkan oleh dataran tinggi yang dibentuk Pegunungan Meratus di tengah, dengan luas daerahnya 38.744,00 km². Kedua, memiliki curah hujan yang tinggi, khususnya di bagian pesisir. 

Curah hujan di suatu lokasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor lokal, regional dan global termasuk di Kalimantan Selatan. Curah hujan di suatu wilayah secara geografis dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain elevasi atau ketinggian tempat/wilayah, jarak dari sumber air, barisan pegunungan serta luasan daratan dan perairan (secara lokal). Beberapa pengaruh lokal yang dapat mempengaruhi curah hujan di suatu lokasi di antaranya topografi, pola angin lokal, lokasi geografis setempat dan lain-lain. Maka, Pegunungan Meratus merupakan faktor lokal yang penting bagi hujan di Kalimantan Selatan. 

Rabu, 29 November 2023

FAKTOR REGIONAL DAN GLOBAL YANG MEMPENGARUHI CURAH HUJAN DI INDONESIA DAN KALIMANTAN SELATAN

Gambar 1. Faktor regional dan global yang mempengaruhi hujan di Indonesia

Faktor Regional dan Global Hujan di Kalimantan Selatan

Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, terdapat banyak selat dan teluk, dikelilingi oleh luasnya lautan menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap variabilitas iklim. Faktor pengendali variabilitas iklim yakni adanya interaksi antara atmosfer, lautan, dan daratan. Perubahan kondisi parameter laut di Samudra Hindia maupun Samudra Pasifik berpengaruh terhadap kondisi atmosfer di atas Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan yang terletak di tengah Indonesia.

Interaksi daratan dan lautan sangat berpengaruh bagi hujan di Kalimantan Selatan. Lautan memiliki peranan penting terhadap kondisi atmosfer berkaitan dengan sifat fisis air laut yang berupa fluida, mempunyai kapasitas panas yang besar dan albedo yang kecil. Lautan menyimpan energi dari matahari, mentransferkan panas dan kelembapan ke atmosfer. 

Selasa, 28 November 2023

POHON DAN HUBUNGANNYA DENGAN IKLIM (WORLD TREE DAY 21 NOVEMBER DAN HARI POHON NASIONAL 28 NOVEMBER )

Gambar 1. Skema faktor lingkungan respon pohon (Kallarackal dan Roby, 2012)

Setiap 21 November diperingati sebagai hari Pohon Sedunia (World Tree Day). Peringatan ini dilakukan dalam rangka menghargai jasa Julius Sterling Morton, seorang aktivitis lingkungan asal Amerika Serikat yang giat mengkampanyekan penanaman pohon. Di Indonesia peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) jatuh pada 28 November, serta pada bulan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional.

Pengertian pohon

Pohon adalah tanaman yang memiliki batang dan cabang dan terbuat dari kayu. Pohon bisa hidup selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Pohon merupakan komponen penting dari ekosistem yang berbasiskan lahan dan hutan. Pohon mempunyai peran utama dalam menyediakan berbagai hal di dalam ekosistem. Dalam konteks perubahan iklim global, faktor lingkungan respon  pohon mempunyai peranan sangat penting dalam menghadapi berbagai permasalahan antara lain : peningkatan emisi CO2 di masa yang akan datang, peningkatan suhu pada siang dan malam hari, kejadian kekeringan, kebakaran hutan, peningkatan hama dan penyakit tanaman dan kejadian ekstrem lainnya. Pohon juga melakukan mekanisme mendorong fotosintesis, pertumbuhan tanaman, penggunaan air, fenologi, komposisi spesies dan lain-lain (Kallarackal dan Roby, 2012).

Jumat, 19 Mei 2023

PENGGUNAAN DRONE DALAM PENGAMATAN METEOROLOGI

 
Video 1. Kegunaan drone untuk berbagai keperluan

UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau drone adalah suatu alat yang sedang terkenal saat akhir-akhir ini. Pesawat tanpa awak yang berukuran kecil dan ringan ini sangat diandalkan olah komunitas aerial photography dalam memotret dan merekam objek dari ketinggian. Selain kegunaan ternyata alat ini mempunyai banyak kegunaan lainnya yang belum dimanfaatkan secara penuh. Salah satu penerapannya dalam ilmu meteorologi. Meningkatnya penggunaan drone, membuat para ahli mengembangkan pesawat tak berawak ini khusus mengumpulkan data dan informasi cuaca. UAV adalah sebuah mesin terbang tanpa awak dengan kendali jarak jauh baik semi autonomous, autonomous (drone) atau gabungan dari keduanya. 

Minggu, 29 Mei 2022

FENOMENA URBAN HEAT ISLANDS (UHI), ANALISIS DAN MITIGASINYA

 
Gambar 1. Profil dan ilustrasi Urban Heat Island (UHI)

Pengertian UHI

Urban Heat Islands (UHI) adalah kondisi daerah kota atau metropolitan yang secara signifikan lebih panas dibandingkan dengan daerah pedesaan di sekitarnya. UHI dicirikan dengan "pulau" udara permukaan panas yang terpusat di area urban dan semakin turun temperaturnya di daerah sekelilingnya pada daerah sub urban/rural (Gambar 1).  UHI terjadi karena peningkatan suhu udara perkotaan (urban) dibandingkan di wilayah sub urban dan rural/ pedesaan (Effendy dan Santosa, 2008). 

Minggu, 24 Oktober 2021

BEBERAPA CARA MENENTUKAN INDEKS KEKERINGAN SPI (STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX)

Gambar 1. Urutan kejadian dan dampak kekeringan secara umum

Pengertian kekeringan meteorologi

Kekeringan adalah bencana alam yang terjadi secara perlahan-lahan (slow onset), berlangsung lama dan berdampak luas (Adhyani et al,. 2017). Perbedaan dengan bencana hidrometeorologi lainnya (banjir, angin kencang, cuaca ekstrem dan lain-lain) terjadi secara sporadis, sedangkan kekeringan terjadi secara bertahap. Kekeringan adalah bencana alam yang bergerak perlahan tapi akan mempengaruhi semua rezim iklim.  Kekeringan terjadi karena adanya anomali penurunan intensitas curah hujan dibandingkan dengan kondisi normalnya. Kekurangan curah hujan yang terjadi daripada relatif yang diharapkan (normalnya) dan diperpanjang dengan periode yang lebih lama, berakibat ketidakmampuan memenuhi kebutuhan manusia dan lingkungan (Hayes et al., 2011). Memahami karakteristik dari suatu kejadian kekeringan adalah elemen penting mempersiapkan dan merencanakan pengelolaan dampak bencana kekeringan serta peningkatan pemantauan kekeringan dan peringatan dini.

Rabu, 29 April 2020

PERINGATAN DINI PENYAKIT DBD BERDASARKAN TINJAUAN IKLIM


Gambar 1. Fase kehidupan nyamuk Aedes aegypti 

Salah satu yang diwaspadai pada saat musim hujan adalah kejadian penyakit menular. Salah satu penyakit menular yang patut diwaspadai saat musim hujan adalah DBD (Demam Berdarah Dengue). DBD banyak ditemukan di daerah tropis dan sub tropis. Kasus penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue masih terbilang tinggi. Di lintasan garis khatulistiwa, Indonesia tak lepas dari dampak penyakit tropis. Sejumlah penyakit tropis yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk seperti DBD terus menjadi momok di Nusantara, khususnya wilayah perkotaan. Penduduk perkotaan lebih rentan terkena virus dengue yang ditularkan oleh vektor berupa nyamuk Aedes aegypti. Penduduk urban tinggal di lingkungan pemukiman yang memiliki tingkat densitas tinggi. World Health Organization (WHO) mencatat Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara tahun 1968-2009. Di Indonesia, kasus DBD pertama kali ditemukan di Surabaya dan Jakarta pada tahun 1968. Sejak itu, DBD berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan semakin bertambahnya jumlah provinsi dan kabupaten/kota (kab/kota) terjangkit DBD (Mamenun et al., 2021).

Selasa, 14 April 2020

MENDETEKSI KEKERINGAN METEOROLOGIS DENGAN SPEI (STANDARDIZED PRECIPITATION AND EVAPOTRANSPIRATION INDEX)

Gambar 1. Kriteria kekeringan

Pendahuluan

Kekeringan adalah suatu permasalahan yang dapat berdampak pada sektor pertanian, ekonomi dan lingkungan hidup. Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara perlahan (slowonset disaster), berdampak sangat luas, dan bersifat lintas sektor. Untuk dapat mendeteksi kekeringan para ahli mengembangkan berbagai indeks kekeringan. Menurut McKee et al., (1993) ada 5 (lima) hal yang penting dalam menganalisis kekeringan, yaitu : 1) Skala waktu, 2) Probabilitas, 3) Defisit curah  hujan, 4) Pengertian presipitasi dengan  dan 5) Hubungan dengan dampak kekeringan.

Kekeringan dapat dibagi dalam 4 kriteria yaitu : kekeringan meteorologis, kekeringan hidrologis, kekeringan pertanian dan kekeringan sosio-ekonomi. 

Kekeringan meteorologis melibatkan pengurangan hujan pada suatu wilayah dalam periode tertentu (hari, bulan, musim, atau tahun) di bawah jumlah tertentu. Kekeringan agrikultural merupakan kurangnya lengas tanah yang menyebabkan kekurangan ketersediaan air untuk kebutuhan tanaman pertanian. Kekeringan hidrologis merupakan pengurangan sumber air (sungai, waduk, airtanah) di bawah level tertentu. Kekeringan sosioekonomik yaitu kurangnya air untuk kebutuhan minum dan kebutuhan dasar masyarakat.

Kamis, 02 April 2020

PERTANIAN CERDAS IKLIM (CLIMATE-SMART AGRICULTURE) DAN SLI OPERASIONAL BMKG

Gambar 1. 3 tujuan Climate Smart Agriculture (CSA)

Pendahuluan
Climate Smart Agriculture (CSA) di Indonesia yang bekerjasama dengan The International Center for Tropical Agriculture (CIAT), tetap berjalan saat pandemi COVID-19 kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry di Bogor pada Senin (23/3/2020). Kerja sama di tahun lalu ini merupakan bagian upaya Indonesia menjelaskan kepada dunia praktek tradisional Indonesia (traditional knowledge) terkait praktek pertanian cerdas iklim. COVID-19 juga merupakan ancaman terbesar bagi ketahanan pangan. Pandemi dapat menjadi berdampak luar biasa. Para ahli di dunia telah mengusulkan teknologi CSA untuk meningkatkan adaptasi petani dan mempertahankan produktivitas. Mekanisasi penanaman tanaman pangan dan diversifikasi tanaman, dengan menggantikan tanaman alternatif yang lebih CSA dapat menjadi bantuan bagi petani menghadapi tuntutan keterbatasan dalam COVID-19.

Selasa, 25 Februari 2020

FENOLOGI TANAMAN DAN GROWING DEGREE-DAYS


Gambar 1. Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung (Zea mays L.)

Unsur cuaca dan iklim sangat berhubungan erat dengan tanaman. Tanaman dapat dipengaruhi unsur cuaca/ iklim oleh suhu rendah dan tinggi, intensitas dan jam sinar matahari, angin dan curah hujan. Pengaruh cuaca dan iklim terhadap tanaman dimulai oleh pengaruh langsung cuaca, terutama pengaruh sinaran dan suhu terhadap berbagai metabolisme dalam tanaman (fotosintesis, respirasi dan beberapa metabolisme dalam sel organ tanaman). Fotosintesis dan respirasi matahari proses biokimia yang memerlukan katalisator. Kecepatan prosesnya akan tergantung pada keaktifan pengkatalisa yang diatur oleh suhu. Pembahasan dimulai dengan radiasi matahari, yang menentukan intensitas dan lama penyinaran matahari, suhu udara, dan evapotranspirasi. Hal ini menyebabkan kelembaban udara dan tutupan awan, sehingga pemanasan udara tidak merata, menyebabkan gerakan angin dan perbedaan tekanan atmosfer (barometrik). Semua hal ini menyebabkan curah hujan, yang menyediakan air yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman.

Selasa, 28 Januari 2020

MENGHITUNG EVAPORASI DAN EVAPOTRANSPIRASI REFERENSI DENGAN MENGGUNAKAN PANCI PENGUAPAN


Gambar 1. Panci Penguapan (Open Pan Evaporimeter)

Panci penguapan merupakan efek gabungan dari suhu, kelembaban udara, kecepatan angin dan sinar matahari terhadap evapotranspirasi pada tanaman referensi. Masalah yang umum suatu panci penguapan tingkat penguapannya akan berbeda pada suatu lahan yang berumput tergantung pada karakteristik tempat dan keadaan cuaca/iklimnya. Penelitian yang rinci tentang neraca energi, perilaku dinamis berhubungan dengan parameter iklim dan menjelaskan proses yang menentukan tingkat penguapan (evaporasi) masih sangat kurang, hanya kebanyakan terfokus pada menentukan Eo, evapotranspirasi dan koefisien empiris Kpan (Molina et al., 2006). Tulisan ini menjelaskan tentang proses evaporasi pada alat panci pengupan kelas A dari segi neraca air dan neraca energi dan menjelaskan beberapa metode penentuan nilai koefisien alat (Kpan) untuk mendapatkan nilai evapotranspirasi referensi pada panci penguapan.

Selasa, 29 Oktober 2019

NERACA ENERGI DI PERMUKAAN BUMI DAN PENGAMATAN RADIASI MATAHARI DENGAN ALAT ASRS


Gambar 1. Beberapa energi terbarukan dan energi tak terbarukan

Energi terbarukan (renewable energy/ ath-thaqah al-mutajaddadah) merupakan kebutuhan yang sangat penting. Ikhtiar ilmiah pengolahan energi terbarukan adalah pilihan terbaik untuk dilakukan mengkaji energi terbarukan dalam perspektif Islam (fikih). Salah satu energi terbarukan yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah energi dari radiasi matahari. Sumber energi tersebut adalah sumber energi penting yang ramah lingkungan, tidak mencemari lingkungan, dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim serta pemanasan global (Ghazali et al., 2017). Saat ini penggunaan energi terbarukan di Indonesia baru sekitar 6,8% dalam bauran energi final. Pemerintah masih harus terus mendorong pengembangan energi tersebut. Indonesia terletak di daerah ekuator yang mempunyai surplus dalam penerimaan energi radiasi matahari, potensial luar biasa dibandingkan daerah lain di lintang tinggi.

Rabu, 31 Juli 2019

KEARIFAN LOKAL DALAM MENENTUKAN AWAL MUSIM KEMARAU UNTUK PERTANIAN DI LAHAN RAWA KALIMANTAN SELATAN

Gambar 1. Peta lahan rawa (Sumber : https://www.cifor.org/global-wetlands/)

Sistem pengetahuan lokal atau sering juga disebut indigenous knowledge atau local knowledge adalah konsep mengenai segala sesuatu gejala yang dilihat, dirasakan, dialami ataupun yang dipikirkan, diformulasikan menurut pola dan cara berpikir suatu kelompok masyarakat. Pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal-balik antara masyarakat dengan lingkungannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kearifan lokal yang hidup dan berkembang di wilayah lahan gambut Kalimantan, antara lain: (1) pemanfaatkan gerakan pasang surut air untuk irigasi dan drainase, (2) penentuan tanaman yang ditanam di sekitar pengairan, (3) konservasi air dengan sistem tabat, (4) sistem pemilihan lahan, (5) sistem penyiapan lahan dan pengolahan tanah, (6) sistem penataan lahan, (7) sistem pengelolaan kesuburan tanah, dan (8) cara petani dalam mengenali musim (Prayoga, 2016).

Kearifan lokal yang terkait dengan iklim adalah cara petani mengenali musim hujan dan musim kemarau melalui gejala alam. Informasi awal musim hujan sangat penting bagi pertanian. Salah satu indikator yang digunakan dalam menentukan waktu tanam adalah awal musim hujan (Surmaini dan Syahbuddin, 2016). Musim kemarau ditunggu karena bagi masyarakat tradisional untuk membuka lahan bagi kegiatan pertanian, dalam sistem perladangan yang mengandalkan curah hujan sebagai kebutuhan air tanaman.

Selasa, 02 Juli 2019

PEMAHAMAN TENTANG MJO (MADDEN JULIAN OSCILLATION)

Gambar 1. Topografi di Indonesia.  Diadaptasi dari : Hidayat dan Kizu (2009)

Di awal Juni 2019 yang lalu Kalimantan Selatan dan beberapa daerah lain di Indonesia dilanda kejadian bencana hidrometeorologi. Hujan yang turun beberapa jam pada Sabtu (8/6) lalu langsung menyebabkan Kotabaru dan Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, diterjang banjir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bencana banjir yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa wilayah Indonesia akibat aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO). Apakah MJO tersebut? Informasinya dapat anda baca pada artikel berikut ini.

Indonesia adalah wilayah yang rentan terhadap variabilitas iklim. Kejadian iklim ekstrim di tempat kita dapat mengakibatkan dampak yang merugikan di berbagai bidang. Kejadian iklim yang ekstrim di daerah kita terkait erat dengan variabilitas curah hujan. Hujan yang ekstrim dapat menyebabkan kejadian banjir dan sebaliknya rendahnya hujan dapat menyebabkan kekeringan. Dengan memahami variabilitas hujan dan faktor yang mempengaruhinya dapat berguna meningkatkan prakiraan iklim dan mengurangi resiko dari bencana alam (Hidayat, 2015).

Selasa, 11 Juni 2019

BEBERAPA BUKU BAHASA INGGRIS UNTUK LEBIH MEMAHAMI MIKROKLIMATOLOGI

Mikroklimatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang iklim mikro atau iklim pada skala yang sempit. Ilmu yang membahas atmosfer sebatas ruangan atmosfer sebatas ruang antara perakaran hingga sekitar puncak tajuk tanaman. Kajiannya berhubungan erat dengan lapisan atmosfer di permukaan bumi sampai dengan ketinggian 1000 m. Di antara lapisan troposfer dan permukaan bumi inilah lapisan perbatas yang disebut sebagai Atmospheric Boundary Layer. Di dalam lapisan batas (Boundary Layer) inilah dipengaruhi pertukaran secara vertikal momentum, panas, kelembaban (air), polutan dan unsur penting lainnya. Boundary Layer Meteorology telah dipelajari bertahun-tahun karena di dalamnya tempat berbagai kegiatan kehidupan manusia. Banyaknya efek terhadap cuaca dan iklim ataupun pergerakan polutan di lapisan ini. Berikut beberapa buku yang menjelaskan tentang ini :

1. Introduction to Micrometeorology (Second Edition)


Buku ini ditulis S.Pal Arya berisikan teksbook tentang dasar-dasar ilmu mikrometeorologi. Disajikan untuk kalangan mahasiswa pasca sarjana dengan bidang ilmu meteorologi atau lingkungan. Isinya fokus pada memperkenalkan konsep tentang Boundary Layer Meteorology. Buku bacaan yang bagus bagi yang tertarik pada studi tentang polusi udara, interaksi atmosfer dan biosfer atau teknik yang berhubungan meteorologi. Buku ini menjelaskan berbagai hukum dan konsep dasar, dilanjutkan deskripsi yang kuantitatif untuk menjelaskan teori yang lebih kompleks. Edisi kedua ini lebih dilengkapi berbagai referensi, setiap Bab menyajikan berbagai latihan dan studi kasus yang lebih berguna menambah pemahaman pembaca.

Kamis, 23 Mei 2019

BEBERAPA BUKU DARI BMKG UNTUK MEMAHAMI METEOROLOGI

BMKG adalah instansi yang bertanggung jawab terhadap pengamatan, analisis dan prakiraan yang terkait dengan Metetorologi, Klimatologi dan Geofisika. BMKG telah menerbitkan beberapa buku yang berisikan dasar-dasar masalah tersebut. Diantaranya buku yang menjelaskan masalah ilmu cuaca (meteorologi) yang rumit tanpa dipahami dengan dasar pengetahuan tertentu.

Kamis, 25 April 2019

MENENTUKAN EVAPOTRANSPIRASI DENGAN METODE EMPIRIS

Gambar 1. Skema Evapotranspirasi acuan (ETo) (diadaptasi dari Raes 2009)

Evapotranspirasi adalah kombinasi dari evaporasi dari tanah dan transpirasi tanaman. Parameter cuaca, karakteristik tanaman, pengelolaan dan aspek lingkungan mempengaruhi evapotranspirasi. Tanaman rumput acuan menutupi tanah secara penuh, terjaga pendek, air lancar dan aktivitas pertumbuhan dalam keadaan kondisi agronomi yang optimal. Evapotranspirasi rata-rata dari suatu permukaan acuan disebut evapotranspirasi acuan dan ditandai sebagai ETo. Konsep evapotranspirasi acuan dikenalkan untuk mempelajari keperluan evaporasi dari atmosfer secara independen pada tipe tanaman, perkembangan tanaman dan praktek pengelolaannya (Raes, 2009).

Rabu, 20 Maret 2019

MEMAHAMI MAPROOM IRI UNTUK INFORMASI KLIMATOLOGI PERTANIAN

Gambar 1. Tampilan awal Maproom IRI tentang curah hujan

Maproom merupakan data library tools yang dikembangkan oleh IRI (International Research Institute for Climate and Society). Maproom ini sangat penting untuk mengolah berbagai data library antara lain : 
  1. Gudang data (data repository) lebih dari 400 dataset dalam aspek karakteristik iklim
  2. Alat pengolahan data (data analysis tool) untuk pengolahan data aritmatik yang mudah dan lebih sulit.
  3. Alat visualisasi data (data visualization tool) untuk menampilkan data dalam bentuk time series, peta dan cross-section.
  4. Sumber untuk mengunduh data (data download resource) untuk akses gratis beberapa data dalam format antara lain : txt, binary, melalui GIS dan lain-lain.